Dua yang tak Genap

Samarinda, 1 Safar 1438 H

Muharram, awal tahun baru hijriah sudah berlalu. Seerapa besar usaha untuk berhijrah menjadi lebih baik, biarlah Allah yang tau dan menilai. Toh kita hanya pelaksana yang tugasnya adalah tunduk dan patuh pada perintahNya serta menjauhi laranganNya.

Suatu sore, sehari sebelum 10 Dzul Hijjah 1437 H di depan TV sambil nonton acara siaran.

“My, lapar……” Si bungsu merengek.

“Shabar nak, bentar lagi buka.” Wanita paruh baya itu menjawab lembut.

“Ish, masih lama itu, masih 2 jam lagi..”, masih berusaha merayu.

“Udah, sana mandi dulu, biar seger, ga lapar lagi”, bujuk wanita itu lagi berusaha mempertahankan kekuatan anaknya.

Beberapa menit kemudian, datang dari tangga atas, seorang perempuan berumur seperempat abad, lari tergesa-gesa seakan membawa kabar penting yang membuat suasana bertambah genting.

“Ummy………………………..”, tetiba berteriak. “Ummy, Mba ga terima, pokoknya ga terima, hohohohoh, udah jam segini juga… ya Allah, padahal kan udah berdo’a…..” [Mengomel Kesal]

“Kenapa sih? datang-datang kok ribut aja…”, wanita yang masih sibuk menyiapkan menu untuk berbuka puasa sore itu merespon.

“Huaaaaaa…. Mb bocor my…. sedihnyaaaa!!!!!”, si Sulung curhat.

“Hussh…” [Sambil menunjukkan isyarat untuk diam dengan jari telunjuk tertempel di bibir]

“Jangan rame-rame, ntar si Bungsu dengar, keingat lapar lagi ntar dia.”, mengingatkan.

“Ooooooops…. oke2 my, siaaaap!!!!!”, si sulung kemudian membantu menyelesaikan menu yang dipersiapkan.

Seperti biasa, Ummy menyediakan salad buah sebagai hidangan istimewa pembuka maghrib nanti. Menu favorit yang selalu dirindu anaknya di bumi perantauan.

Muharram, 9th, 1438 H.

“Alhamdulillah, masih bisa ketemu Muharram hari ini….” [Sembari meluruskan punggung melepas lelah]

Tetiba perut terasa nyeri.

“Oh No, ga mungkin, ini ga mungkin terjadi….”, menolak dengan keras.

“Ke kamar mandi ga ya… Hmm… takut”, melangkah bolak-balik ragu.

Akhirnya dengan Basmallah ia melangkah.

Dan……..

“Huaaaaaa, tuh kaaaan!!!!!! Kenapa sih selalu aja gini.. firasat yang buruk-buruk mesti kejadian. Shabar ya Allah!!!”

Yah, ada shabar yang harus diberikan dalam porsi besar lagi saat menerima kenyataan bahwa harus melewatkan puasa Arafah & 10 Muharram kali ini. Tak apa. Kita berdo’a semoga Allah memberi kesempatan lain untuk menanam kebaikan lagi di lain waktu. Aamiin.

ikhlas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s