Antara Cita-cita, Realita, Harapan, dan Masa Depan

Siang itu Kami bersama mencari tempat untuk sama-sama mengisi perut sebelum melanjutkan aktifitas masing-masing. Temanya yang ngajak sih Sarapan. Kayaknya, dia lupa lihat jam. Bahwa saat itu, jarum jam yang menempel di tanganku menunjukkan pukul 11.35 WITA, yang konon sudah dekat juga dengan waktu Dzuhur tiba.

Di tengah jalan, tiba-tiba aja lelaki yang ku ikuti arah motornya sedari tadi berhenti mendadak. Aku, yang terbiasa melaju di arena jalan melambatkan sedikit kecepatan motorku. Ku lihat dari spion BelPurku, rupanya anak itu sedang mangambil bendera hijau persyarikatan yang tercecer karena lepas dari tongkat tempat dia terpasang. Tentang ini, sempat di tengah obrolan ini dia berkomentar:

“Sampean ini, kecintaannya ke persyarikatan sepertinya belum utuh. Masa lihat bendera jatuh tadi ga diambil. Itu harga diri kita.”, omelnya.

“Ya Allah, tolong ajaaa… kan situ duluan yang jalan, si mata situ itu bendera keliatan. Nah, situ udah ngambil, aku harus ambil apaan?”, sahutku membela diri.

Lelaki satu ini emang kadang-kadang ga pandang umur kalo udah ngeliat sesuatu yang menurut dia ga sejalan dengan fikiran. Workshop PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa), menjadi tempat pertama kali aku bertemu dengannya yang ternyata hanya berbeda 1 minggu saja masuknya di tempat kami bekerja. Barangkali itu juga yang kemudian membuat kami sedikit nyambung dalam berbagai obrolan dan kegiatan. Obrolan kami selalu mengalir begitu saja tanpa ingat lagi siapa yang memulai pertama.

Di tengah momen Makan siang kami, di sebuah warung berjalan di area depan Gedung DPR Kalimantan Timur, obrolan setengah serius dimulai.

Adik saya yang satu ini tetiba bertanya mengenai pendapat Saya terkait tempat bekerja kami berdua.

Seketika, Saya teringat ribuan fikiran2 yang terus berkelebat di hari-hariku belakangan ini.

“Dulu….. cita-cita Saya ingin jadi Dosen. Di tiga institusi yang Saya masukkan lamaran ke dalamnya, semua Saya masukkan lamaran untuk posisi Dosen. Institusi satu yang paling terakhir Saya masukkan sampai saat ini tidak pernah memanggil Saya untuk datang ke institusinya. Institusi ternama yang Saya masukkan juga hanya bisa mengatakan bahwa Saya lulus berkas tapi belum bisa mengajar di Semester ini. Barangkali semester depan ada lowongan, akan segera dipanggil kembali. Institusi kedua, yang sekarang menjadi tempat Saya bekerja saat ini, memanggil namun dengan hormat menyatakan bahwa Saya belum berkesempatan untuk menjadi Dosen. Namun, meghargai lamaran yang Saya telah ajukan, menimbang sisi bahwa Saya berasal dari Institusi luar negeri, posisi yang Saya ambil saat inilah kemudian yang ditawarkan”, panjangku menjelaskan.

“Aku sebenarnya tidak langsung menerima, ada jeda waktu kurang lebih seminggu saat aku meminta pendapat pada kerabat dan orang-orang terdekat sembari dua kali istikharah ku lakukan hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung di institusi ini”, ini yang belum sempat ku jelaskan hari itu.

“Lantas sekarang, apa masih bimbang?”, tanyamu mencari tahu.

“Kalau boleh jujur, kebimbangan itu masih terus ada hingga saat ini dalam fikiran. Ini semua tentang cita-cita, realita, harapan dan masa depan”, begitu kataku pasti.

Seringkali dalam hati aku menangis saat orang lain di luar sana memanggilku dengan sebutan “Ibu Dosen Muda”. Mereka hanya berfikir bahwa aku saat ini sudah berhasil mendapat mimpiku di masa dulu sebagai Dosen. Tapi pada realitanya, aku hanya berhasil menjelaskan tentang itu pada keluarga, dan rekan yang benar-benar mengerti posisiku di pekerjaan saat ini.

Apa kemudian pekerjaanku salah? tidak. Ini hanya tentang sebuah proses pembelajaran. Seringkali aku terlalu tinggi dalam menaruh mimpi dan keinginan. Tapi di balik semua yang aku dapatkan, yang ku tau hanya satu. Allah selalu memberi yang terbaik. Bukankah Allah sudah pernah bilang bahwa apa yang baik menurut manusia belum tentu baik di mataNya. Begitupun yang buruk di mata manusia, belum tentu buruk di mataNya.

Maka, selanjutnya, dalam menjalani proses kehidupan ini, tidak ada salahnya terus menabung harapan dan menghadirkannya dalam do’a. Karena kita tidak pernah tahu, harapan dan do’a mana yang akan Allah kabulkan di masa depan.

Keep positive thinking… Karena Allah sesuai prasangka hambaNya.

Wallahu a’lam bishshowab. 

KUI STIKES Muda Samarinda,

18 Rabi’ul Awwal 1438 H/ 18 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s